• KEMUDARATAN YANG MENGHARAMKAN PUASA

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya “Apa tolok ukur kemudaratan yang dengannya puasa memudaratkan orang yang sakit hingga haram baginya untuk berpuasa?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya kemudaratan bisa diketahui dengan indera perasa dan terkadang diketahui dengan pengkabaran. Adapun dengan indera perasa yaitu seorang yang sakit merasakan dengan sendirinya bahwa puasa memudaratkannya, rasa sakit menguasainya, dan mengharuskan kesembuhan yang terlambat. Adapun dari pengkabaran yaitu dengan pengkabaran dokter ahli yang terpercaya dan tidak disyaratkan dokter yang muslim.” (Asy Syarh Al Mumti’ 6/328-329)

    [selanjutnya...]
  • JANGAN RUSAK PUASA KITA

    pecah

    قال الإمام أحمد رحمه الله ( كانوا إذا صاموا قعدوا في المساجد وقالوا نحفظ صومنا ولا نغتب أحدا ولا نعمل عملا يجرح به صومنا. ) [المغني ٤/٤٤٧] Berkata Al Imam Ahmad rahimahullah, “Dahulu jika mereka berpuasa, mereka duduk di masjid-masjid dan mengatakan, ‘Mari kita jaga puasa dengan tidak menggibahi seseorang, dan tidak mengamalkan amalan yang karenanya puasa kita rusak.” [Al Mughni 4/447]

    [selanjutnya...]
  • BEDAKAN HARI BERPUASA DAN HARI BERBUKA

    800px-Welcome_Ramadhan

    قال جابر بن عبد الله رضي الله عنهما: ( إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمآثم، ودع أذى الخادم، وليكن عليك وقار وسكينة يوم صيامك، ولا تجعل يوم فطرك ويوم صيامك سواء ) [المصنف لابن أبي شيبة ٨٩٦٥] Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berpesan, “Apabila Anda berpuasa, puasakanlah pendengaran, penglihatan, dan lisan Anda dari kedustaan dan perbuatan dosa. Tingggalkanlah sikap mengganggu pekerja. Hendaknya Anda bersikap tenang dan penuh sakinah pada hari berpuasa. Janganlah Anda jadikan hari berpuasa dan hari berbuka Anda sama!” (Al Mushonaf Ibnu Abi Syaibah No. 8965)

    [selanjutnya...]
  • BESARNYA KENIKMATAN ALLAH

    Ramadan Lantern

    Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata, “Termasuk dari faedah-faedah puasa adalah pengetahuan insan akan besarnya kenikmatan Allah yang ada padanya dari kemudahan makanan, minuman, dan hubungan badan–jika yang sudah berkeluarga–. Sisi itu dilihat dari keberadaan manusia yang tidak mengetahui besarnya kenikmatan kecuali dengan kebalikannya. Seperti yang dikatakan, ” Dengan kebalikannya, jelaslah segala sesuatu.” Manusia yang kenyang tidak mengetahui sakitnya kelaparan. Jika lapar atau haus, dia mengerti sakitnya kelaparan dan mengerti besarnya kenikmatan dengan kekayaan. Demikian juga dengan pengingatan manusia akan saudaranya si fakir yang tidak mampu untuk makan dan minum, dia akan menyayanginya dan bersedekah padanya.” [Syarhu

    [selanjutnya...]