• Siapa Teman Duduk Anda?

    372-31

    Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menuturkan, “Tangisilah dan sayangilah dirimu, karena seandainya engkau tidak menyayanginya, maka engkau tidak akan disayangi. Jadikanlah teman dudukmu adalah orang yang menjadikanmu zuhud terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat. Berhati-hatilah engkau dari bermajelis dengan ahli dunia yang berdalam-dalam pada pembicaraan dunia. Karena sesungguhnya mereka akan merusak agama dan hatimu. Perbanyaklah mengingat kematian dan meminta ampunan untuk dosa-dosamu yang telah berlalu. Dan mintalah keselamatan kepada Allah untuk umurmu yang tersisa.” (Hilyatul Auliya, 7/82) قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى: ابك على نفسك وارحمها ، فإن أنت لم ترحمها لم تُرحم ، وليكن جليسك من يزهدك في الدنيا ويرغبك

    [selanjutnya...]
  • Pemicu Permusuhan dan Kebencian

    api

    Al-Masrur bin Makhramah rahimahullah menceritakan, “Dihadapkan pada Umar Ibnu Al-Khothob radiyallahu’anhu harta dari daerah kekuasaannya. Beliau mulai melihat dan menelitinya. Lalu bercucuranlah air matanya dan beliau menangis. Abdurahman bin Auf radiyallahu’anhu bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu menangis? Demi Allah, sesungguhnya ini adalah termasuk dari tempat-tempat untuk bersyukur.” Maka Umar Ibnu Al-Khotob radiyallahu’anhu menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya harta ini tidaklah diberikan pada suatu kaum, kecuali dihembuskan permusuhan dan kebencian diantara mereka!” [Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 7/402] عن المسرور بن مخرمة قال: قدم على عمر بن الخطاب رضي الله عنه بمال من ولايته فجعل يتصفحه و ينظر إليه، فهملت عيناه

    [selanjutnya...]
  • JANGAN RUSAK PUASA KITA

    pecah

    قال الإمام أحمد رحمه الله ( كانوا إذا صاموا قعدوا في المساجد وقالوا نحفظ صومنا ولا نغتب أحدا ولا نعمل عملا يجرح به صومنا. ) [المغني ٤/٤٤٧] Berkata Al Imam Ahmad rahimahullah, “Dahulu jika mereka berpuasa, mereka duduk di masjid-masjid dan mengatakan, ‘Mari kita jaga puasa dengan tidak menggibahi seseorang, dan tidak mengamalkan amalan yang karenanya puasa kita rusak.” [Al Mughni 4/447]

    [selanjutnya...]
  • BEDAKAN HARI BERPUASA DAN HARI BERBUKA

    800px-Welcome_Ramadhan

    قال جابر بن عبد الله رضي الله عنهما: ( إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمآثم، ودع أذى الخادم، وليكن عليك وقار وسكينة يوم صيامك، ولا تجعل يوم فطرك ويوم صيامك سواء ) [المصنف لابن أبي شيبة ٨٩٦٥] Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berpesan, “Apabila Anda berpuasa, puasakanlah pendengaran, penglihatan, dan lisan Anda dari kedustaan dan perbuatan dosa. Tingggalkanlah sikap mengganggu pekerja. Hendaknya Anda bersikap tenang dan penuh sakinah pada hari berpuasa. Janganlah Anda jadikan hari berpuasa dan hari berbuka Anda sama!” (Al Mushonaf Ibnu Abi Syaibah No. 8965)

    [selanjutnya...]
  • Awas Susah Terima Nasehat!

    drip-1032743_960_720

    بسم الله الرحمن الرحيم قال ابن مسعود رضي الله عنه: “وإن من أكبر الذنوب عند الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك نفسك.” [الدعاء لابن فضيل ١.٧] Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya termasuk dari dosa-dosa terbesar di sisi Allah adalah seseorang menasihatkan pada orang lain, “Bertakwalah kepada Allah!” Lalu orang itu membantah, “Urus dirimu sendiri!” (Ad Du’a, Ibnu Fudhail, 107) Alih Bahasa: Ustadz Zaki Ibnu Salman

    [selanjutnya...]
  • Siapakah Orang yang Fakih?

    buku

    بسم الله الرحمن الرحيم ﻗﺎﻝ ﻣﺠﺎﻫﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﺮ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻲ ﺍﻟﺠﻠﻴﻞ رحمه الله: (( ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻣﻦ ﻳﺨﺎﻑ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﻗﻞ ﻋﻠﻤﻪ، ﻭﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻣﻦ ﻋﺼﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺜﺮ ﻋﻠﻤﻪ )) [ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ :٩/٢٥٥] Tabi’in yang mulia, Mujahid Ibnu Jabir rahimahullah berkata, “Fakih itu orang yang takut kepada Allah walaupun sedikit ilmunya. Jahil itu orang yang bermaksiat kepada Allah walaupun banyak ilmunya.” [Al Bidayah Wa Nihayah 9/255]

    [selanjutnya...]
  • Berniatlah Kebaikan

    good-intentions

    بسم الله الرحمن الرحيم قال عبد الله إبن الإمام أحمد لأبيه يوماً: أوصني يا أبت؟ فقال: يا بني انوِ الخير فإنك لا تزال بخير ما نويت الخير. [الآداب الشرعية ١/١٠٤] Pada suatu hari, Abdullah putra Imam Ahmad berkata pada bapaknya, “Wahai bapakku, berilah wasiat padaku!” Maka beliau berkata, “Wahai anakku, berniatlah kebaikan, karena sesungguhnya engkau selalu dalam kebaikan selama engkau berniat kebaikan.” (al-Adab asy-Syar’iah, 1/104)

    [selanjutnya...]